PANGERAN KECIL MALAS BERDIRI

Kode Penyakit: ICD-10 : N48.4
cakmoki
SAMARINDA, APRIL 2007
DAFTAR ISI
Catatan:
Maaf, urutan penulisan artikel ini sengaja dibuat tidak lazim. Gejala ditempatkan sebelum penyebab, supaya tanpa terasa sedikit lebih menarik perhatian pembaca.

Mana pangeran kecilku ?
Disfungsi Ereksi atau erectile dysfunction adalah disfungsi sexual (sexual dysfunction) yang ditandai dengan ketidak mampuan atau mempertahankan ereksi pada pria untuk mencapai kebutuhan seksual dirinya sendiri maupun pasangannya.
Pada umumnya (ssst, tidak semua) kemampuan ereksi berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Yang dimaksud “kemampuan”, meliputi: lamanya waktu yang diperlukan untuk bisa ereksi, lebih banyaknya stimulasi (rangsangan) langsung untuk ereksi, kurang mantapnya (kurang keras) ereksi, kurang bisa mencapai puncak orgasme, sedikitnya jumlah ejakulasi, lebih lamanya waktu tenggat antar ereksi (waktu yang diperlukan dari ereksi pertama ke ereksi berikutnya lebih lama).
Seperti guyonan lama: bayangan hidup, pandangan hidup, pegangan hidup, kenangan hidup, harapan hidup. Dan ... malas hidup, berat ... berat.
Dalam keadaan normal, ereksi biasanya terjadi saat tidur malam atau bangun pagi.
Pada disfungsi ereksi, tanda-tandanya adalah sebagai berikut:
Tidak mampu ereksi sama sekali atau tidak mampu mempertahankan ereksi secara berulang ( paling tidak selama 3 bulan )
Tidak mampu mencapai ereksi yang konsisten
Mampu ereksi hanya sesaat ( dalam referensi tidak disebutkan lamanya )
Diakui ataupun tidak, disfungsi ereksi membuat lelaki seperti tak berdaya. Bisik-bisik antar pria seputar “rudal”, tak pelak menjadi bahan pembicaraan menarik dimanapun, dikantor, di kafe, di dunia maya, dimana-mana. Mitospun berhamburan sebagai bumbu penyedap kala berbicara “kegagahan” sang rudal.
Bagaimana rumpian rudal di kalangan wanita ? Hiyyy, jijay, tutup wajah buka jari. Ehm
Penyebab organik (kelainan organ), yakni:
Berkurangnya aliran darah ke penis, misalnya: penyakit vaskuler, gangguan hormonal, pasca operasi prostat, dan lain-lain.
Kerusakan saraf yang disebabkan penyakit lain, misalnya: diabetes
Faktor psikologis, antara lain: stress, kecemasan, depresi, rasa letih, perselisihan, sakit hati, rasa bersalah, paranoid dan sejenisnya.
Selain itu, disfungsi ereksi berhubungan dengan beberapa faktor resiko diantaranya: hipertensi, diabetes, usia di atas 40 tahun, penyakit kardiovaskuler, kerusakan saraf tulang belakang (spinal cord), merokok, rendahnya kadar testosteron, penyakit pada penis (contoh: cedera penis), obat tertentu, alkohol, radiotherapy dan lain-lain.
Schrader S, dkk (2002) menyebutkan adanya hubungan bersepeda dengan Disfungsi Ereksi karena tekanan sadel sepeda.
Proses Ereksi dan Perjalanan Penyakit
Ereksi terjadi melalui 2 mekanisme.
Pertama, adalah refleks ereksi oleh sentuhan pada penis (ujung, batang dan sekitarnya). Kedua, ereksi psikogenik karena rangsangan erotis.
Keduanya menstimulir sekresi nitric oxide yang memicu relaksasi otot polos batang penis (corpora cavernosa), sehingga aliran darah ke area tersebut meningkat dan terjadilah ereksi. Disamping itu, produksi testosteron (dari testis) yang memadai dan fungsi hipofise (pituitary gland) yang bagus, diperlukan untuk proses ereksi.
Karenanya dapat dimengerti bahwa disfungsi ereksi berhubungan erat dengan faktor: hormonal, sistem saraf, aliran darah dan psikologis.
Gangguan pada salah satu atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan terjadinya disfungsi ereksi.
Tidak ada (belum) cara khusus untuk menegakkan diagnosa disfungsi ereksi. Pemeriksaan darah lebih diarahkan untuk mengetahui penyakit lain yang diduga berhubungan dengan disfungsi ereksi, misalnya: diabetes, hypogonadism (kelainan pada kelenjar gonad), dan lain-lain.
Kondisi lain yang berhubungan dengan disfungsi ereksi, antara lain: kondisi kesehatan yang buruk, kurang gizi, obesitas (terlalu gemuk), penyakit kardiovasukler.
Wawancara mendalam dan pengakuan jujur penderita sangat membantu menegakkan diagnosa disfungsi ereksi sekaligus menentukan langkah-langkah penatalaksanaannya.
Pemeriksaan fisik, terutama organ reproduksi pria dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya kelainan organik.
Pemeriksaan penunjang: lihat pemeriksaan penunjang
Beberapa pemeriksaan yang lazim digunakan untuk menunjang diagnosa disfungsi ereksi, antara lain:
Duplex ultrasound
Penile nerves function
Nocturnal penile tumescence (NPT)
Dynamic Infusion Cavernosometry (DICC)
Corpus Cavernosometry
Digital Subtration Angiography (DSA)
Magnetic resonance angiography (MRA)
Maaf, tanpa rincian, menurut penulis tidak terlalu penting.
Jenis dan cara pengobatan bergantung kepada penyebab primernya. Selain itu ditujukan pula untuk memperbaiki fungsi ereksi. Tak jarang kasus disfungsi ereksi tidak memerlukan obat, terutama pada kasus disfungsi ereksi karena faktor psikologis. Hal ini dibuktikan dengan pemberian plasebo (bukan obat sebenarnya) yang ternyata memberikan hasil baik pada beberapa kasus disfungsi ereksi psikologis. Selain itu, peran pasangan sangat penting untuk membantu pemulihan disfungsi ereksi.
Obat-obat yang sering dipakai untuk terapi disfungsi ereksi, antara lain:
Phosphodiesterase inhibitor (PDE), misalnya: sildenafil. Obat ini tidak boleh digunakan lebih satu kali dalam sehari. Digunakan sebagai pilihan pertama tanpa memandang penyebabnya, karena efektif bagi sebagian besar penderita disfungsi ereksi. Obat PDE lain seperti Tadalafil digunakan 30 menit-36 jam sebelum hubungan seksual. Vardenafil, diminum 25-60 menit sebelum hubungan seksual.
Alprostadil dan phentolamine diberikan secara injeksi ke batang penis. Ada juga jenis prostaglandin suppositoria lubang kencing (uretra), cara ini tidak nyaman karena menimbulkan rasa nyeri.
Vacuum constriction. (yang ini rumit deh)
Pembedahan, dilakukan untuk memperbaiki pembuluh darah penis (revaskularisasi).
Penis tiruan (protesis penis), merupakan pilihan terakhir jika semua upaya tidak memberikan hasil yang memadai.
Dan lain-lain
Obat-obat di atas digunakan hanya atas petunjuk dokter, mengingat efek samping yang tidak diinginkan.
Hindari obat-obat dan gaya hidup pencetus disfungsi ereksi, misalnya minuman alkohol berlebihan dan sejenisnya
Rileks. Di beberapa pusat kebugaran menyediakan metode relaksasi.
Olahraga teratur sesuai kemampuan dan cukup istirahat
Dukungan dan toleransi pasangan diperlukan untuk pemulihan disfungsi ereksi
Komunikasi penuh kasih dengan pasangan
Konsultasi kepada psikolog jika penyebabnya faktor psikologis
Konsultasi kepada dokter khususnya dokter ahli andrologi (jika ada)
Adakalanya sang pangeran kecil malas berdiri, tidak serta merta disfungsi ereksi. Jika hanya insidental, tak usah terlalu risau. Seperti halnya koneksi internet, kadang si kecil mode lemot. So, tetap optimis man !!!
Obat-obat pencetus
Obat-obat yang berhubungan dengan disfungsi ereksi, antara lain:
Obat yang menimbulkan kecanduan, misalnya: heroin, metadon, alkohol
Antihipertensi, misalnya: metildopa, tiazid, spironolakton, klonidin, beta-bloker.
Ketokonazol, penghambat reseptor H-2, antikolinergik
Antidepresan (trisiklik), antipsikotik
semoga bermanfaat
Samarinda, April 2007
Gambar: reproduksi pria dalam keadaan rilaks dan ereksi.

cakmoki ...